Jumat, 06 Desember 2013

Menyongsong Perpustakaan Digital : Peran Pustakawan dalam Pengembangan Perpustakaan Digital

Menyongsong Perpustakaan Digital : Peran Pustakawan dalam Pengembangan
Perpustakaan Digital

Oleh : Arsidi, MIP.

1.  Pendahuluan
Sudah  menjadi  kebiasaan  umumnya  orang  bahwa  kedatangan  ke  perpustakaan  adalah untuk  meminjam  buku  atau  sekedar  membaca-baca  bahan  bacaan  yang  ada  di  sana.  Kegiatan membaca dan meminjam buku ini tentu saja dapat menambah wawasan, itulah salah satu tujuan didirikannya  perpustakaan.  Meskipun  rajin  datang  ke  perpustakaan  bukanlah  satu-satunya alternatif yang dapat membuat seseorang pintar.
Seiring berjalannya aktivitas di perpustakaan , sangat memerlukan  motivasi  pengunjung baik  yang  ingin  mencari  referensi,  melihat  dan  membaca  koleksi  perpustakaan,  hingga  ingin meminjam koleksi. Sesuai dengan perkembangan jaman, sudah seharusnya fungsi perpustakaan tidak hanya sekedar tempat bacaan atau memberi layanan peminjaman berupa buku bacaan saja. Banyak konsep yang perlu dibenahi agar perpustakaan tidak memiliki citra sebagai tempat yang membosankan atau tempat berkumpulnya kutu buku saja. Harus ada penerapan terobosan baru dalam pembangunan konsep perpustakaan untuk menciptakan kesan bahwa perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan, sehingga orang akan lebih antusias untuk berkunjung. Faktanya kini banyak perpustakaan  yang kondisinya memprihatinkan dan jauh dari kata ideal sehingga perlu ditingkatkan  kembali karena telah mengalami degradasi  yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal.
Jika  melihat  perkembangan  teknologi  informasi  (TI)  berjalan  begitu  cepat.  Hal  ini menyebabkan  beberapa  bidang  mulai  mengintegrasikan  diri  dengan  teknologi  digital.  Tidak terkecuali  dalam  dunia  perpustakaan.  Salah  satu  pengaruh  teknologi  digital  terhadap perpustakaan  adalah  lahirnya  perpustakaan  digital.  Di  Amerika  Serikat,  dunia  web  didukung ketersediaan  dana  untuk  pengembangannya.  Karena  itu,  dengan  cepat  perpustakaan  digital mengkristal  dan  populer.  Para  penganut  pandangan  determinasi  teknologi  memandang  bahwa perpustakaan  digital  merupakan  sebuah  lompatan  raksasa  karena  menghadirkan  sesuatu  yang sama  sekali  baru  dalam  kehidupan  manusia.  Bahkan  dengan  sedemikian  populernya,  dengan cepat  perpustakaan  digital  merambah  ke  mana-mana  di  berbagai  penjuru  dunia.  beberapa kalangan  memandang  bahwa  inilah  era  e-book  yang  bakal  menggerus  kehadiran  buku-buku cetak. Mereka menilai digitalisasi membuat semuanya lebih praktis. Namun penulis  termasuk  yang tidak sependapat dengan hal itu.  walaupun kehadiran  ebook  tak bisa terelakkan dengan kemajuan zaman, buku cetak tetap  akan diperlukan seseorang untuk  dibaca  dan  dijadikan  bahan  referensi.  Karena  itu,  penulis  lebih  setuju  dengan pengembangan  hybrid  library  (perpustakaan  hibrida).  Menurut  Christine  Brogman,  ”Hybrid library are  designed to brings of technologies from different sources together in the context of a working  library  and  also  to  begin  to  explore  integrated  system  and  services  in  both  the electronic and print environment.  Artinya bahwa  hybrid library  didesain untuk mengelola teknologi dari dua sumber yang berbeda,  yaitu  sumber  elektronik  dan  sumber  koleksi  tercetak  yang  bisa  diakses  melalui  jarak dekat  dan  jarak  jauh.  Secara  sederhana,  hybrid  library  bisa  disebut  sebagai  perpaduan  koleksi digital (e-book/buku elektronik) dan koleksi konvensional (buku cetak).

Di  Inggris,  konsep  hybrid  library  diteliti  dan  dikembangkan.  Tak  tanggung-tanggung, Negeri  Ratu  Elizabeth  itu  memiliki  lima  proyek  hybrid  library  (Pendit,  2008:  34).  Yaitu, BUILDER (University of Birmingham), AGORA (University of East Anglia), MALIBU (King’s
College  London),  Headline  (London  School  of  Economics),  dan  HyLife  (University  of Northumbria).

Pada Perpustakaan Hibrida (hybrid library)  terdapat kerja sama yang  baik  antara pustakawan  dan  teknolog.  Yaitu  secara  bersama-sama  membangun  koleksi  ”baru”  (elektronik atau digital) dan koleksi “lama” (buku cetak) secara terintegrasi. Di  Indonesia,  hybrid  library  juga  bisa  dikembangkan.  Apalagi,  ia  memiliki  beberapa kelebihan dibandingkan perpustakaan digital. Salah satunya,selain melakukan digitalisasi, hybridlibrary  masih  mempertahankan  koleksi  buku  cetak.  Sebab,  pada  dasarnya  pemakai  jasa  masih memerlukan koleksi tersebut.  Selain itu, karakter buku cetak tidak bisa begitu saja tergantikan oleh  e-book. Demikian pula jurnal cetak yang tak begitu saja bisa digantikan oleh jurnal digital. Di  sisi  lain,  alat  pendukung  untuk  membaca  buku  elektronik  belum  terjangkau  oleh  seluruh kalangan  masyarakat  di  Indonesia.  Terutama  masyarakat  menengah  bawah.  Karena  itu,  untuk memfasilitasi  dua  kepentingan  tersebut,  hybrid  library  bisa  menjadi  salah  satu  alternatif  bagi pengembangan pendidikan di Indonesia. Selain menyediakan koleksi buku cetak,  hybrid library mendukung teknologi digital dalam koleksi  e-book  yang informasinya mungkin hanya tersedia dalam bentuk digital, bukan cetak.

2.  Permasalahan
Berdasarkan  pendahuluan  di  atas,  ada  beberapa  permasalahan  yang  menyelimuti
keberadaan  perpustakaan  kini,  baik  perpustakaan  di  sekolah,  perguruan  tinggi  maupun
perpustakaan  daerah.  Permasalahan  untuk  mewujudkan  terciptanya  perpustakaan  ideal  dapat
muncul  dari  segi  internal  dan  eksternal.  Dari  segi  internal  misalnya  keterbatasan  koleksi  yang
dimiliki, keterbatasan ruang dan keterbatasan tenaga pustakawan. Sedangkan dari segi eksternal
misalnya  kurangnya  perhatian  dari  pihak  yang  bersangkutan  atas  tanggung  jawabnya  dalam
mengembangkan perpustakaan. Secara keseluruhan, permasalahan yang paling banyak dijumpai
dalam sebagian besar perpustakaan adalah minimnya jumlah koleksi yang dimiliki. Bagaimana
orang  akan  tertarik  datang  ke  perpustakaan  jika  di  sana  mereka  hanya  menemui  koleksi  yang
kuno dan itu-itu saja? Banyak siswa dan mahasiswa mengeluhkan bahwa koleksi bacaan  yang
mereka  temukan  di  perpustakaan  tempat  mereka  menuntut  ilmu  adalah  bacaan-bacaan  yang
terkait dengan kuliah atau pelajaran saja. Itupun sudah tidak  up to date  dengan keluaran terbaru
yang mutakhir. Kurikulum pendidikannya sudah berubah tetapi koleksi bacaan di perpustakaan
tidak berubah.  Kalaupun bertambah, jumlahnya masih minim dan seringkali tidak sesuai dengan
apa  yhang  dibutuhkan  oleh  mereka.  Itu  belum  termasuk  dengan  koleksi  bacaan  diluar  hal-hal
yang  berkaitan  dengan  pelajaran  atau  mata  kuliah  tertentu.  Koleksi  bacaan  yang  sifatnya
menghibur  seperti  majalah,  koran,  novel,  buku  cerita,  jumlahnya  sangat  sedikit.  Hal  ini  justru
makin memperkuat aura perpustakaan sebagai tempat yang menjemukan. Tidak heran bila kini
pelajar  atau  mahasiswa  banyak  yang  datang  ke  perpustakaan  jika  sedang  ingin  mengerjakan
tugas  saja.  Perpustakaan  telah  kehilangan  salah  satu  daya  tariknya  sebagai  tempat  yang
semestinya bertujuan untuk menambah wawasan atau menghibur dengan koleksi yang dimiliki
dan  bukan  tempat  untuk  mengerjakan  tugas  saja.  Sedangkan  untuk  keberadaan  perpustakaan
daerah  yang  dibangun  guna  mencerdaskan  masyarakat,  masih  banyak  yang  perlu  dibenahi.
Antara  lain  dengan  terbatasnya  jenis  dan  jumlah  koleksi  bacaan  yang  dimiliki,  kurang
bervariasinya  kegiatan  yang  berlangsung  sehari-harinya  di  perpustakaan,  hingga  minimnya
fasilitas yang tersedia.  Permasalahan  ini belum termasuk hambatan yang datang dari pemerintah
daerah  berupa  kurangnya  realisasi  kebijakan  anggaran  yang  ditujukan  untuk  membangun
perpustakaan daerah . Rendahnya minat baca masyarakat  seringkali dijadikan argumentasi yang
seolah-olah  menyalahkan  masyarakat  dan  dijadikan  pijakan  untuk  menilai  keberhasilan
pembangunan perpustakaan daerah.
3.  Pengembangan Perpustakaan Digital
Sebelum  memikirkan  bagaimana  pengembangan  Perpustakaan  Digital  akan  lebih  baik
lagi  jika  permasalahan  yang  melingkupi  konsep  perpustakaan  dibenahi  lebih  dahulu  karena
pembentukan  konsep  perpustakaan  merupakan  hal  vital  yang  mempengaruhi  antusiasme
pengunjung  yang  datang.  Melihat  kondisi  sebagian  besar  perpustakaan  di  Indonesia  saat  ini,
diharapkan apa yang penulis sampaikan ini dapat membantu mencari pemikiran langkah-langkah
revitalisasi  perpustakaan  yang  memprihatinkan  atau  jauh  dari  harapan  tersebut.  Upaya
menghidupkan  suasana  perpustakaan  memang  tidak  dapat  dilakukan  dengan  jalan  yang  instan
karena  banyak  hal  yang  harus  diperhatikan  dan  dipertimbangankan.  Meskipun  untuk
merevitalisasi  perpustakaan  bukan  hal  yang  mudah,  tetapi  tidak  mustahil  untuk  dilaksanakan.
Hasil  akhirnya,  diharapkan  akan  tercipta  perpustakaan  yang  memadai  dan  diminati  banyak
pengunjung,  salah  satu  alternatifnya  adalah  memfasilitasi  Perpustakaan  yang  telah  ada  dengan
perpustakaan Digital atau sering disebut konsep perpustakaan Hibrida(Hybrid Library).
Sulit  melihat  Perpustakaan  Digital  yang  lahir  tanpa  ada  sebelumnya  perpustakaan
konvensional.  Mudahnya  bahwa  Perpustakaan  Digital  adalah  juga  perpustakaan.  Bahkan  Jika
kita melihat keadaan yang ada di Amerika serikat dan Eropa barat sebagai contoh dan pedoman
lahirnya  Perpustakaan  Digital  kenyataannya  Negara  tersebut  ramai  membicarakan  Digital
Libraries  pada penghujung tahun 1998 ketika itu Pemerintah  menganggarkan dana  yang besar
untuk Perguruan tinggi terpilih untuk memulai pembangunan perpustakaan Digital.

Senada  dengan  ungkapan  Putu  Laxman  Pendit  yang  menyatakan,  “Walau  saat  ini
hampir  semua  objek  digital  merupakan  objek  yang  born  digital,  masih  amat  jarang  ada
Perpustakaan  Digital  yang  born  Digital.  Sebagian  besar  kondiri  dan  capaian  saat  ini  adalah
hasil perubahan bertahab dan sistematis. Perpustakaan Digital bukan ciptaan sekecap.

Pengembangan perpustakaan digital mengalami pengaruh  yang cukup besar, tidak hanya
pada  pemustaka,  tetapi  juga  pada  pustakawan.  Perpustakaan  digital  akan  mengakibatkan
perubahan, antara lain, dengan tugas-tugas di perpustakaan, hubungan dengan pemustaka, system
manajemen  baru  dalam  organisasi  perpustakaan  itu  sendiri.  Sesungguhnya  terdapat  tantangan
pada  manusia  dan  peran  organisasi  induk  tempat  perpustakaan  bernaung  yang  perlu
diperhitungkan  dalam  mengembangkan  dan  mendukung  perpustakaan  digital.  Faktor  manusia
menjadi  suatu  elemen  yang  sangat  penting  dalam  membangun  perpustakaan  digital.  Fungsi
manusia,  dalam  hal  ini  adalah  pustakawan  dalam  organisasi  perpustakaan,  yang  akan
menggerakkan  manusia  lainnya,  sarana  dan  prasarana  yang  ada  untuk  mencapai  tujuan  atau
sasaran. Adapun dukungan lembaga/instansi induknya  terhadap perpustakaan termasuk ke  dalam
faktor yang menentukan munculnya  motivasi yang  mendorong  pustakawan dalam menjalankan
tugasnya.

Sebelum  penulis  masuk  pada  hal-hal  apa  yang  perlu  dipersiapkan  dalam  membangun
Perpustakaan  Digital  perlu  penulis  sampaikan  tentang  jenis  perpustakaan,  agar  ada  pemikiran
yang  sama  ketika  membicarakan  tentang  perpustakaan  Digital.  Karena  selama  ini  banyak
pemahaman  yang keliru  tentang pemaknaan Perpustakaan Digital oleh banyak orang. Menurut
beberapa teori yang penulis temukan ada empat jenis perpustakaan diantaranya :
1.  Perpustakaan digital,  yaitu perpustakaan  yang koleksinya dikemas dalam format
digital sehingga dapat diakses menggunakan komputer.
2.  Perpustakaan  Hibrida,  yaitu  perpustakaan  yang  memiliki  koleksi  dalam  bentuk
cetak maupun format digital.
3.  Perpustakaan  Konvensional  Terautomasi,  yaitu  perpustakaan  yang  memiliki
koleksi dalam bentuk cetak dengan layanan terautomasi (pelayanan menggunakan
teknologi informasi).
4.  Perpustakaan  Konvensional,  yaitu  perpustakaan  yang  memiliki  koleksi  dalam
bentuk cetak dan layanannya secara manual.

Dari  pengertian  tersebut  jelas  kita  dapatkan  gambaran  yang  dimaksud  perpustakaan
Digital  sehingga  hal  apa  saja  yang  kita  perlukan  untuk  membangunnya.  Kebutuhan   dalam
perpustakaan   digital   adalah   perangkat   keras,   perangkat  lunak,   dan   jaringan   komputer
sebagai   elemen-elemen   penting   infrastruktur  sebuah  perpustakaan  digital.  Perangkat   utama
yang diperlukan dalam perpustakaan digital adalah computer personal  (PC), internet   (internetworking),  dan   world   wide   web  (www).  Ketiga   hal   tersebut   memungkinkan   adanya
perpustakaan   digital.  Internet  terdiri  dari  sekumpulan  jaringan  komputer  milik  perusahaan,
institusi, lembaga pemerintah, ataupun penyedia jasa jaringan  (Internet Service Provider)
yang saling terhubung di mana masing-masing jaringan komputer yang terhubung dikelola
secara independen. Dengan adanya internet, maka perpustakaan digital dapat diakses dimana
saja  dan   kapan  saja  tanpa  batasan  waktu.   Perpustakaan   adalah   pihak   yang   sangat   cepat
mengadopsi teknologiteknologi baru, dari sejak munculnya  microfilm¸  layanan informasi
online, sampai ke CD-ROM. Pengadopsian dua teknologi baru yaitu internet dan website
merupakan pendorong utama terbentuknya perpustakaan digital.
Dorongan terbentuknya perpustakaan digital membuka babak baru kerjasama erat antara
ahli komputer dengan pustakawan yang telah lama terjalin sejak mereka bekerja bersama
membangun  sistem  untuk  otomasi  perpustakaan.  Dengan   hadirnya   web   di   tahun   1994,
perpustakaan   digital   dan  penerbitan  elektronik  telah  bergerak  untuk  melakukan  aktivitasaktivitas  yang  akan  mulai  melengkapi  perpustakaan  dan  penerbitan  tradisional.  Adanya   web mempermudah seseorang untuk menyimpan, mengakses, menampilkan data atau koleksi dalam bentuk digital, dan adanya internet memungkinkan data digital di satu tempat bisa
diakses dengan mudah dan cepat dari tempat lain. Jika misalnya  terdapat sepuluh perpustakaan
digital saja yang masing-masing memiliki kurang lebih 100.000 koleksi berformat digital
di mana daftar koleksinya berbeda  antara satu  dengan  yang lainnya,maka itu berarti tersedia
satu juta koleksi  yang  diakses oleh pengguna.  Dengan perpustakaan, konsep berbagi sumber
daya  (resource sharing)  yang selama ini terbentur  oleh berbagai hal (seperti birokrasi,
politik,   dan   sebagainya),   benar-benar   bisa  dilaksanakan   dengan   lebih   mudah.   Konsep
peminjaman antar perpustakaan (inter-library loan) kini menjadi sangat mudah dilakukan.

Dari sekian banyak buku yang telah menuliskan mengenai sistem informasi, ada
tiga   elemen   pendukung   penting   yang   diperlukan   dalam  pengembangan  sistem  informasi,
yaitu perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan manusia (brainware).
1) Perangkat Keras
a)  Web   server,  yaitu   server   yang   akan   melayani   permintaanpermintaan layanan web page dari para pengguna internet
b)  Database server,  yaitu jantung sebuah perpustakaan digital karena di sinilah keseluruhan koleksi disimpan
c)  FTP  server,  yaitu  untuk  melakukan  kirim/terima  berkas  melalui  jaringan komputer
d)  Mail   server,   yaitu   server   yang   melayani   segala   sesuatu   yang berhubungan dengan surat elektronik (e-mail)
e)  Printer server, yaitu untuk menerima permintaan-permintaan pencetakan, mengatur antriannya, dan memprosesnya
f)  Proxy server, yaitu untuk pengaturan keamanan penggunaan internet dari pemakai-pemakai   yang   tidak   berhak   dan  juga   dapat  digunakan   untuk membatasi ke situs-situs yang tidak diperkenankan
2) Perangkat Lunak
Perangkat lunak yang paling banyak digunakan adalah  Apache  yang bersifat  open source  (bebas terbuka-gratis). Untuk yang mengunakan Microsoft, terdapat perangkatlunak untuk  web server yaitu IIS (Internet Information Sevices).
3) Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam sistem informasi ini adalah:
a)  Database Administrator, yaitu penanggung jawab kelancaran basis data
b)  Network  Administrator,  yaitu   penanggung   jawab   kelancaran  operasional jaringan computer
c)  System Administrator,  yaitu penanggung jawab siapa saja yang berhak mengakses system 
d)  Web Master,  yaitu penjaga agar website beserta seluruh halaman yang ada di dalamnya tetap beroperasi sehingga bisadiakses oleh pengguna
e)  Web Designer,  yaitu penanggungjawab rancangan tampilan website sekaligus mengatus isi website (Putu Laxman Pendit, dkk. 2007: 177-188).

Perpustakaan  digital  pada  dasarnya  memiliki  3  (tiga)  karakteristik  utama  sebagaimana
diulas Tedd dan Large (2005), yaitu :
1) Menggunakan  teknologi  yang  mengintegrasikan  kemampuan menciptakan,  mencari,  dan  menggunakan  informasi  dalam  berbagai bentuk dalam sebuah jaringan yang tersebar luas.
2) Memiliki  koleksi  yang  mencakup  data  dan  metadata  yang  saling mengaitkan berbagai data, baik dilingkungan internal maupun eksternal.
3) Merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumber daya digital yang dikembangkan bersama  -  sama komunitas pemakai jasa untuk memenuhikebutuhan informasi mereka.

Untuk  itu  perpustakaan  digital  merupakan  integrasi  berbagai  institusi  yang  memilih, mengoleksi,  mengolah,  merawat,  dan  menyediakan  informasi  secara  meluas  keberbagai komunitas.

4.  Peran Pustakawan Dalam Pengembagan Perpustakaan Digital
Kemudian  yang  harus  dilakukan  oleh  pustakawan  di  Perpustakaan  sekolah,  perguruan
tinggi  maupun  daerah,  adalah  aset  berupa  content(sumber  daya  koleksi)  yang  semestinya
dikembangkan karena sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk mencerdaskan bangsa bila
apa yang terdapat dalam perpustakaan tersebut dimaksimalkan penggunaannya dengan fasilitas
Perpustakaan  Digital.  Hal  lain  yang  dapat  dilakukan  oleh  pustakawan  adalah  perlu  melakukan
upaya menggiatkan kembali nafas perpustakaan adalah dengan menambah jumlah koleksi bacaan
yang  lebih  beragam  baik  koleksi  digital  maupun  koleksi  tercetak  namun  harus  disesuaikan
dengan mayoritas pengunjung yang biasa memanfaatkan perpustakaan tersebut.

Pustakawan juga bisa mengembangkan Konsep Perpustakaan Hybrid , yaitu perpustakaan
yang memiliki koleksi dalam bentuk format digital dan format cetak sepertinya tepat diterapkan
guna  merevitalisasi  perpustakaan  yang  ada  kini  baik  di  sekolah,  perguruan  tinggi  maupun
perpustakaan  daerah  dengan  menyediakan  sarana  yang  diperlukan  untuk  membangun perpustakaan  digital.  Fasilitas  perpustakaan  hybrid  yang  lebih  lengkap  akan  membantu  orang
yang datang berkunjung untuk mencari yang mereka butuhkan.

Selain  itu  Seiring  dengan  kemajuan  teknologi  informasi  pustakawan  harus
mengembangkan  system  sarana  peminjaman  koleksi  prosesnya  dilakukan  melalui  software
automasi degan pelayanan berbasis web juga memudahkan pencarian  katalog dan koleksi secara
online. Namun bagi perpustakaan daerah, perpustakaan desa/masyarakat tidak semua orang  yang
berkunjung  melek  teknologi  karena  jenis  pemustaka  lebih  beragam.  Dengan  konsep
perpustakaaan  hybrid,  orang  yang  belum  melek  teknologi,  belum  mampu  mengoptimalkan
pencarian katalog secara online tersebut masih tetap bisa menikmati berkunjung ke perpustakaan
untuk mencari koleksi-koleksi perpustakaan dalam format cetak. Disamping itu pustakawan juga
harus  meng-upgrade  pengetahuannya  di  bidang  Teknologi  Informasi  Komputer  agar  mampu
memberikan layanan dan menyediakan layanan perpustakaan Digital dengan sebaik-baiknya.

5.  Penutup
a.  Kesimpulan
Kesimpulan  yang  dapat  penulis  sampaikan  dalam  tulisan  ini  adalah,  berbagai  macam
permasalahan  yang  muncul  baik  segi  internal  maupun  eksternal  dalam  usaha  pencapaian  citra
perpustakaan  ideal  itulah  yang  sesungguhnya  berdampak  langsung  dengan  antusiasme
pengunjung  perpustakaan.  Pengunjung  ibaratnya  nafas  bagi  perpustakaan.  Jika  perpustakaan
yang  dijumpai  masih  memberikan  kesan  menjemukan,  bagaimana  akan  banyak  diminati  oleh
pemustaka?. Padahal kesan menjemukan masih bisa dirasakan pada sebagian besar perpustakaan
di  Indonesia.  Oleh  karena  itu,  revitalisasi  atas  kondisi  perpustakaan  yang  memprihatinkan  ini
sudah  saatnya  diwujudkan.  Salah  satu  caranya  adalah  dengan  penerapan  konsep  perpustakaan
Digital  yang dipadukan dengan layanan perpustakaan konvensional yang dikembangkan  dengan
baik,  yaitu  perpustakaan  yang  memiliki  koleksi  dalam  format  digital  dengan  layanan  yang
modern.  Langkah  ini  diharapkan  akan  mampu  memulihkan  kondisi  perpustakaan  hingga
menciptakan  kesan  bahwa  perpustakaan  adalah  tempat  yang  menyenangkan  bagi  pengunjung
yang pada akhirnya akan mendongkrak jumlah pengunjung  yang datang. Konsep perpustakaan hybrid  memberi  keleluasaan  bagi  pengunjung  dalam  menikmati  fasilitas  perpustakaan  dan
memilih jenis koleksi yang tersedia. Konsep perpustakaan hybrid dinilai lebih menarik dan lebih
lengkap  sehingga  tepat  digunakan  untuk  merevitalisasi  kondisi  dalam  upaya  menuju
perpustakaan yang ideal. Seluruh lapisan yang terkait juga diperlukan partisipasinya dalam upaya
revitalisasi ini karena membangun perpustakaan ideal  bukanlah hal yang bisa dilakukan secara
instan.  Banyak  hal  yang  harus  dipertimbangkan  dan  dikembangkan,  termasuk  optimalisasi
fasilitas yang telah tersedia pada perpustakaan dan pada akhirnya  maintenance perpustakaan itu
sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa pengembangan perpustakaan seringkali terbentur masalah
pendanaan. Masalah serius ini sudah seharusnya mendapat perhatian agar hambatan berkurang.
Dengan  demikian,  pengunjung  dapat  memiliki  perpustakaan  ideal  sebagai  salah  satu  sarana
pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

b.  Saran
Adapun saran-saran dalam pelaksanaan program  pengembangan Perpustakaan Digital  ini
adalah  Pertama,  Pengadaan  bahan  koleksi  baik  format  digital  maupun  cetak  haruslah  tepat
sasaran pada pengunjung. Misalnya dengan mendata apa saja yang biasanya dicari oleh kalangan
pelajar (untuk perpustkaan sekolah), mahasiswa  & dosen (untuk perguruan tinggi), dan umum
(untuk perpustakaan daerah). Yang juga perlu menjadi catatan yaitu penambahan koleksi, jangan
sampai  koleksi  yang  tersedia  tidak  up  to  date.    Kedua,    perlu  dilakukan  Sosialisasi  kepada
pengunjung  dan  masyarakat  mengenai  penerapan  konsep  perpustakaan  Digital.  Ketiga,
Melakukan  kerjasama  dengan  pihak  lain  yang  sekiranya  mampu  mendukung  kemajuan
perpustakaan.  Misalnya  penerbit  buku  atau  pengarang/jurnalis.  Keempat,  Pelatihan  teknologi
informasi  kepada  pustakawan  maupun  pegawai  perpustakaan.  Kelima,  Perlu  adanya  perhatian
dari  pihak  sekolah,  perguruan  tinggi  atau  pemerintah  terkait  masalah  pendanaan  yang  akan
digunakan untuk mengembangkan perpustakaan.

Demikian  makalah  ini  ditulis  dengan  penuh  keterbatasan,  namun  yang  penulis  ingin
tekankan  adalah  bagaimana  kita  melihat  kondisi  sekarang  untuk  kemudian  bersikap  untuk
mengembangkan layanan perpustakaan sehingga mampu menjadikan perpustakaan sarana yang
paling  efektif  dalam  memfasilitasi  pemustaka  menemukan  informasi  dan  pengetahuan  dengan
format  dan  system  apapun.  Yang  jelas  adanya  kemudahan  dan  keakuratan  informasi  yang
disajikan oleh perpustakaan. Semoga kita mampu menjawab tantangan era global yang ditandai
dengan  semakin  banyak  dan  membanjirnya  informasi  di  sekeliling  kita  dengan  memberikan jawaban  kepada  masyarakat,  salah  satunya  dengan  menghadirkan  perpustakaan  digital  yang
digabungkan dengan perpustakaan konvensional menjadi lebih sempurna. Wallahu’alam.(arsidi)

DAFTAR PUSTAKA 

Christine Brogman. 2003. “Designing Digital Libraries for Usability in Digital Library Use “
(The MIT Press)
Pendit, Putu Laxman. 2008. “ Perpustakaan Digital: dari A-Z ”Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri
_________________. 2009. Perpustakaan Digital:Kesinambungan dan Dinamika, Jakarta, Cita
Karyakarsa. Hal 137
_________________. (2007). Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan
Tinggi Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
Tedd, L. A., & Large, A. , Digital Libraries: Principles and Practice in a Global Environment
(Munchen: K.G. Saur, 2005) hlm. 16 – 19. 

Materi lengkapnya silahkan downlod di link berikut ini :

TEHE SEVEN PILLARS : NEW MODEL


MODEL THE SEVEN PILLARS


Minggu, 24 November 2013

PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SOLUSI DALAM MELEJITKAN PRESTASI



PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SOLUSI DALAM MELEJITKAN PRESTASI[1]
Oleh : Arsidi[2]
A.    Pendahuluan
Kualitas pendidikan kita sulit beranjak dari keterpurukan selama minat baca dan dunia perpustakaan tidak dibangun dan diurus dengan sungguh-sungguh . Mutu Pendidikan kita tidak bisa lepas dari rendahnya minat baca. Banyak indikasi yang menggambarkan terpuruknya kualitas pendidikan kita. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan kita. Melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, salah satunya dengan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun ada satu hal mendasar yang belum menjadi perhatian khusus oleh banyak pihak, yaitu rendahnya minat baca.
Programme for International Student Assessment/PISA (2009) menunjukkan skor rata-rata kemampuan membaca remaja Indonesia adalah 402, di bawah skor rata-rata negara Organization for Economic Cooperation and Development (493). Indonesia menempati peringkat ke-58 dari 65 negara peserta studi PISA 2009. Dengan begitu, Indonesia berada di bawah Montenegro (408), Yordania (405), dan Tunisia (404).[3]Sungguh memprihatikan. Masih berdasarkan studi PISA dari enam tingkatan (level) kemampuan membaca, dan menghubungkan satu atau banyak informasi, baik yang bertalian maupun bertentangan, lebih dari 50 persen siswa Indonesia berada pada level ke-2. Adapun kemampuan menafsirkan dan memadukan informasi skornya hanya 399 atau peringkat ke-56 dari 65 negara. Bagaimana dengan tingkat kemampuan memadukan atau menginterpretasikan informasi? Lebih parah lagi. Lebih dari 50 persen siswa Indonesia menempati peringkat di bawah level ke-2.[4] 
Barangkali, Inikah salah satu akar permasalahan terpuruknya pendidikan kita? Karena rendahnya minat baca menjadikan kebiasaan membaca yang rendah, dan kebiasaan membaca yang rendah menjadikan kemampuan membaca juga rendah, yang dampak terburuknya adalah rendahnya kemampuan dan budaya belajar. Rendahnya minat baca, tentu tidak hanya sebatas masalah kuantitas dan kualitas buku saja, melainkan terkait juga pada banyak hal yang saling berhubungan. Misalnya, mental anak dan lingkungan keluarga/masyarakat yang tidak mendukung. Sekarang para orang tua kesulitan membangkitkan minat baca anak karena gencarnya kehidupan dibombardir[5] oleh media informasi dan hiburan elektronik. Anak lebih suka nge-game di Play Station atau melalui HP sedangkan orang tua lebih suka nongkrong untuk santai ngerumpi atau menonton acara televisi daripada menunggui anak belajar.
Para pakar pendidikan berpendapat, untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum, salah satu jalan yang ditempuh adalah meningkatkan minat baca. Upaya meningkatkan minat baca akan efektif jika dimulai sejak dini, saat masih usia anak-anak. Sekolah melalui pemberdayaan perpustakaannya, memiliki peran besar dalam membina, membiasakan dan mefasilitasi agar minat baca tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Namun apa yang kita temui di sekolah-sekolah kita, banyak SD (bahkan SMP dan SMA) masih ada yang tidak memiliki ruang khusus untuk perpustakaan dan tidak memiliki petugas khusus yang mengelola perpustakaan. Dengan demikian, wajar saja kalau siswa kita tidak terasah kemampuan membacanya karena memang tidak terfasilitasi. Cobalah kita merenung, barangkali rendahnya mutu pendidikan di negeri ini terkait dengan keteledoran kita menelantarkan perpustakaan dan meminimalisir fungsi perpustakaan dalam membangkitkan masyarakat belajar di lingkungan sekolah. Perpustakaan Sekolah merupakan tempat siswa memperoleh bahan bacaan/ informasi yg sangat diperlukan bagi pengembangan kecerdasan dan kedewasaannya. Apabila perpustakaan dapat berfungsi dan diberdayakan dengan optimal maka siswapun pasti juga akan berdaya, lebih cerdas, lebih berwawasan dan lebih berkemampuan. Dalam kondisi seperti ini berarti pula akan meningkatan mutu pendidikan. Misi Utama Perpustakaan adalah menyediakan layanan dan pemberdayaan koleksi bahan pustaka. Terlaksananya misi tersebut sangat bergantung pada kondisi berkembangnya minat dan kebiasaan membaca, tetapi sebaliknya minat dan kebiasaan membaca juga hanya dapat berkembang manakala tersedia fasilitas bahan bacaan yg memadai, sesuai, cukup, menarik utk dibaca dan mudah diperoleh calon pembacanya. Disinilah pentingnya peran Perpustakaan Sekolah.
B. Pentingnya perpustakaan
Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari sekolah/madrasah, perpustakaan memiliki peran sangat vital dalam mendukung pencapaian keberhasilan belajar siswa di sekolah/madrasah. Dari perpustakaanlah guru akan efektif meningkatkan minat baca yang berarti memacu motivasi belajar siswa. Jika minat baca ini sudah terbangun maka prestasi belajar yang kita inginkan ”ibarat makanan, sudah di depan mulut”. Betapa pentingnya perpustakaan, sebagaimana jantung kita itulah semestinya fungsi perpustakaan sekolah. Telah banyak kita ketahui bersama bahwa manfaat perpustakaan sekolah adalah, antara lain :
1. Menumbuhkan kecintaan siswa terhadap “membaca”
2. Memperkaya pengalaman belajar siswa
3. Menanamkan kebiasaan belajar mandiri
4. Mempercepat proses penguasaan teknik membaca.
5. Membantu siswa untuk memiliki kemahiran dan keterampilan dalam memilih dan mempergunakan bahan pustaka(library skills), sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang tepat dan baik di dalam kehidupannya;
6. Membantu perkembangan kecakapan berbahasa
7. Melatih siswa ke arah tanggungjawab, tidak plagiat
8. Membantu siswa mengembangkan sikap-sikap sosial dalam pengalaman mereka menggunakan perpustakaan secara tertib
9. Membantu guru menemukan sumber-sumber pembelajaran
10. Membantu siswa, guru dan pegawai sekolah mengikuti perkembangan informasi serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Secara ideal perpustakaan sekolah harus dapat memenuhi fungsi edukatif, informatif, riset dan rekreatif. Fungsi dan manfaat itu meskipun sudah lama kita ketahui namun sayang masih banyak belum kita sadari. Ini dapat kita lihat dari kondisi umum perpustakaan kita. Perpustakaan banyak dipandang sebelah mata, masih banyak sekolah menempatkan program perpustakaan di prioritas buncit.[6] Nasib hidupnya di pojok-pojok pekarangan/bangunan atau sisa-sisa ruangan yang tidak terpakai plus lembab dan gelap. Kalaupun punya gedung dan buku yang dibilang cukup memadai namun tidak disertai manajemen pengelolaan yang semestinya, karena alasan kekurangan SDM, dana dan sebagainya. Agar meningkatkan kesadaran dan komitmen kita untuk peningkatan kualitas pendidikan, disamping kita belajar dari kegagalan pendidikan kita, marilah terus mengembangkan upaya agar minat baca dan budaya belajar peserta didik kita ini mengalami peningkatan (atau bahkan lompatan). Tidak lain dengan membangun, mengembangkan dan memberdayakan perpustakaan sekolah. Apalagi pembelajaran yang di kembangkan saat ini ditekankan dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa, pembelajaran aktif yang multi metode dan multi akses. Pembelajaran yang demikian memerlukan perpustakaan sekolah yang representatif. Oleh karena itu perpustakaan harus dikembangkan dan diberdayakan. Dalam model active learning itu, setiap mata pelajaran harus didukung dengan bahan-bahan yang ada di perpustakaan. Setiap guru mata pelajaran, harus mengkondisikan senantiasa merujuk sekaligus mengembangkan pembelajaran melalui perpustakaan. Dengan demikian tidak ada mata pelajaran yang tidak membutuhkan perpustakaan.

C. Persoalan Umum Perpustakaan Sekolah
Melalui tulisan ini ijinkan saya berbagi pengalaman dengan memaparkan apa persoalan umum yang dihadapi oleh sekolah dan strategi dan langkah-langkah apa yang sudah dilakukan SMA Negeri 1 Yogyakarta dalam rangka membangun dan memberdayakaan perpustakaan sekolah. Berikut adalah beberapa masalah yang secara umum dihadapi oleh sekolah :
  1. Manejemen sekolah yang kurang mementingkan keberadaan perpustakaan di sekolah. Hal ini berdampak kurang kuat dan solidnya dukungan manajemen sekolah bagi tumbuh-kembangnya perpustakaan, sehingga alokasi dana untuk pengembangan perpustakaan dari sekolah pun tidak memadai bahkan bisa tidak ada alokasi anggaran khusus.
  2. Kurangnya SDM pengelola yang sesuai bidang keilmuannya. Petugas perpustakaan banyak yang bukan seorang pustakawan atau tenaga yang terdidik/terlatih dengan kemampuan yang relevan, sehingga pengelolaan kurang profesional.
  3.  Ruang dan fasilitas yang kurang memadai/representatif serta koleksi buku bahan bacaan yang pada umumnya masih dominan pada buku-buku paket. Buku-buku selain buku paket masih dalam jumlah yang sangat terbatas. Dengan kondisi tersebut, perpustakaan belum mampu menampilkan empat fungsi perpustakaan ideal (informasi, referensi, rekreasi, dan riset) sehingga perpustakaan belum menjadi pilihan favorit siswa dan guru.
  4. Kenyataan rendahnya minat baca para siswa
  5. Mata pelajaran yang ada tidak mampu menampung melimpahnya buku bacaan pengembangan wawasan yang populer
  6.  Menjamurnya penerbitan buku ajar baru yang selalu berlebel “sesuai kurikulum terbaru” tetapi isinya banyak yang tidak sesuai atau dikurangi disebabkan untuk menekan harga jual.
  7. Belum semua guru dan pegawai memiliki kesadaran akan pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung keberhasilan belajar siswa.
  8. Sedikitnya forum efektif tempat berkumpulnya para pustakawan dan pengelola perpustakaan sekolah untuk berbagi pengalaman dan memelihara motivasi.
Berikut ini strategi dan langkah-langkah yang dilakukan SMA Negeri 1 Yogyakarta  dalam upaya mengatasi masalah tersebut. 
Untuk meningkatkan keberpihakan manajemen sekolah pada pengelolaan dan pengembangan perpustakaan, antara lain dengan cara :
  1.  Pengelola perpustakaan diposisikan secara struktural langsung di bawah kepala sekolah
  2. Terjaminnya anggaran rutin perpustakaan dengan mengalokasikan anggaran rutin yang memadai dalam Rencana Anggaran Pendapatan Sekolah(RAPBS), kalau memnugkinkan masuk dalam tim penyusun RAPBS.
  3. Perlu penyusunan dan penetapan Rencana Strategis (RENSTRA) pengembangan perpustakaan secara berkesinambungan.
  4.  Otonomi Perpustakaan dalam hal pengelolaan.
  5. Penempatan tenaga Perpustakaan yang unggul sebagai pengelola, tidak sekedar pengelola perpustakaan dan tidak memiliki pendidikan perpustakaan
  6. Melakukan kegiatan promosi perpustakaan kepada siswa dan guru melalui kegiatan Literasi Informasi dan pendidikan pemakai.
  7. Mendorong aktivitas pembelajaran di perpustakaan
  8. Mengalokasikan dana minimal 5% dari RAPBS
2. Untuk mengatasi kurangnya SDM pengelola yang sesuai bidang keilmuannya, dilakukan dengan :
  • Menugaskan guru yang latar belakang pendidikannya lebih dekat dengan profesi pustakawan serta memiliki kepedulian pada perpustakaan untuk mengikuti Diklat, seminar, workshop bidang perpustakaan.
  • Merekrut SDM lulusan Jurusan Ilmu Perpustakaan.
  •  Mengirim pengelola perpustakaan pada pelatihan-pelatihan tentang perpustakaan atau pelatihan yang relevan.
  • Bekerjasama dengan berbagai pihak seperti Perguruan Tinggi dalam bentuk penempatan PKL atau penyelesaian tugas akhir yang terkait dengan perpustakaan sehingga banyak manfaat yang dapat diperoleh.
  • Studi banding ke beberapa perpustakaan tingkat SMA/SMK/MA di perpustakaan yang bisa memberikan inspirasi kemajuan dalam mengembangkan perpustakaan
3. Untuk mengupayakan agar perpustakaan dapat berfungsi optimal yang mampu menampilkan empat fungsi perpustakaan ideal (informasi, referensi, rekreasi, dan riset) sehingga menjadi tempat pilihan favorit siswa dan guru di sekolah, antara lain dilakukan :
  • Menempatkan perpustakaan di tempat yang paling strategis.
  • Mendesain tata ruang perpustakaan menjadi tempat yang paling menarik dan nyaman dengan warna yang cerah dan bergaya remaja, hidup dan bernenergi dengan difasilitasi sarana audio yang menyuguhkan musik instrumental penjaga stamina dan pemicu kerja otak. Sehingga membuat orang yang masuk ruang perpustakaan menjadi lebih segar dan terdorong untuk segera mengambil bacaan dan mendapatkan tempat yang santai.
  • Menyediakan ruang –ruang yang berfungsi memberikan layanan yang nyaman kepada pemustaka
  • Menyediakan koleksi bacaan selengkap mungkin agar dapat memenuhi sebagian besar keinginan pembaca.
  • Menambah koleksi Perpustakaan dengan buku – buku pemicu minat baca, belangganan media harian, majalah, tabloid, dan lain-lain.
  • Pelayanan prima yakni layanan yang santun dan simpatik
  • Kolaborasi dengan guru dalam pemanfaatan perpustakaan dalam proses pembelajaran
  • Mendorong aktivitas pembelajaran di perpustakaan dengan berbagai upaya
  • Membuat program unggulan dalam melejitkan perpustakaan dan kecintaan kepada buku
  • Menambah jam pelayanan sampai sore jam 17.00 WIB
  • Menambah jam istirahat ke II dari 15 menit menjadi 30 menit.
  • Melakukan Promosi dan sosialisasi melalui program kegiatan, leaflet, brosur, poster,stiker , tas, pulpen, dll.
  • Meningkatkan kenyamanan ruang dengan dipasang AC dan ada iringan music klasik
  • Melakukan pelayanan dengan sistem otomasi/komputerisasi Perpustakaan dengan menggunakan software, di Perpustakaan SMAN 1 Yogyakarta digunakan software IBRA Versi 5 untuk perpustakaan digital dan software SISKO untuk sirkulasi.
  • Memiliki fasilitas layanan perpustakaan digital online berupa koleksi ebook, audio, video, dll sehingga mamungkinkan mengakses koleksi dari manapun dan kapanpun.
4. Untuk upaya mengatasi rendahnya minat baca di tengah melimpahnya buku bacaan pengembangan wawasan, kiat yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan kegiatan dalam bentuk ajakan kepada warga sekolah, misalnya kita mengundang pengarang buku, motivator, mengadakan lomba menulis cerpen, lomba resensi dan lain-lain
5. Menjamurnya penerbitan buku ajar baru yang selalu berlebel “sesuai kurikulum terbaru” jika tidak dihadapi dengan kompak oleh guru dan perpustakaan akan juga menimbulkan persoalan. Oleh karena itu untuk menyikapi masalah ini Perpustakaan SMAN 1 Yogyakarta bekerjasama dengan Wakil Kepala Urusan Kurikulum dan wakil Kepala Sarana Prasarana, memfasilitasi guru dengan penyediaan koleksi. Dilaksanakan bersamaan dengan ulangan umum semester atau pada waktu tertentu yang mengharuskan. Hasil telaah para guru mata pelajaran sejenis ini kemudian menjadi bahan Rekomendasi pemilihan (pembelian) buku ajar bagi siswa atau perpustakaan Sekolah. Sehingga dibuat kebijakan pengembangan koleksi.
6. Untuk meningkatkan kesadaran guru dan pegawai akan pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung keberhasilan belajar siswa

  • a) Mendorong para guru untuk menggunakan perpustakaan sebagai sarana pembelajaran tidak hanya untuk siswa salah satunya dengan pelatihan literasi informasi bagi guru
  • b)      Mendorong para guru untuk menggunakan Studi Literatur dan sarana pembelajaran
  • c)      Pemberian reward bagi guru dan karyawan yang aktif mengunjungi perpustakaan.
  • d)     Memberikan contoh / teladan membaca di perpustakaan
  • e)      Kepala sekolah melakukan Penetapan Jam wajib kunjung dan baca dengan program bagi semua siswa, guru dan pegawai.

7. Sedikitnya forum yang efektif ebagai tempat berkumpulnya para guru, pustakawan dan pengelola perpustakaan sekolah untuk berbagi pengalaman akan berdampak pada melemahnya semangat dan motivasi para pengelola perpustakaan, bahkan para pimpinan sekolah/madrasah karena kurangnya masukan. Hal ini oleh SMAN 1 Yogyakarta  diatasi dengan mengikutkan pustakawannya dalan organisasi profesi pustakawan yang ada di Yogyakarta seperti FPSI, ATPUSI dan IPI. Berbagai upaya tersebut oleh para pengelola SMA Negeri 1 Yogyakarta disarikan menjadi 10 butir strategi yang kemudian dipopulekan dengan “10 Langkah Meningkatkan Minat Baca Di SMA Negeri 1 Yogyakarta”.[7] Selain berbagai upaya tersebut, SMA Negeri 1 Yogyakarta juga menggandeng dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung program pengembangan dan pemberdayaan perpustakaan ini, mulai dari siswa, Guru, Tata Usaha, Kelompok kerja Guru (MGMP), Organisasi IPI, FPSI, GPMB,ALUS,  penerbit, tokoh masyarakat, sekolah dan sekolah lain, Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota  (Arpusda), Perpustakaan Provinsi (BPAD), Dinas Pendidikan,  maupun Perguruan Tinggi dan pada tahun 2011 Perpustakaan SMAN 1 Yogyakarta tergabung dalam Jogja Library For All (JFLA) sebuah jaringan kerjasama silang layan dengan 21 perpustakaan se-DIY.
SMA Negeri 1 Yogyakarta juga mengambil inspirasi pengembangan dari buku-buku pemicu minat baca maupun dari dunia internet. “Agar Perpustakaan Tak Jadi Kuburan”, kata Hernowo memberikan istilah di mizan.com. Menurutnya mendirikan bangunan fisik sebuah perpustakaan dan kemudian mengisinya dengan buku-buku bermutu adalah langkah awal yang sangat perlu. Yang lebih penting lagi setelah itu adalah bagaimana agar perpustakaan dapat menjaga keberadaannya dengan kegiatan-kegiatan yang menggairahkan berkaitan dengan buku, yaitu menarik dan meningkatkan minat dan kebiasaan membaca. Beberapa trik alternatif "menghidupkan" perpustakaan patut dicoba untuk dilakukan, antara lain :
1.        Menempel poster orang-orang yang sukses lantaran kesuksesan itu mereka raih lewat membaca buku.
2.    Menempel poster para penulis yang telah berhasil mewarnai dunia dengan karya-karya tulisnya.
3.          Ada kegiatan membaca dan menulis yang saling melengkapi dan mendukung.
4.          Menyediakan bahan bacaan yang lengkap, kaya, dan beragam, yang tak hanya buku.
5.   Ada teladan (role model) baca-tulis di perpustakaan yang dapat dilihat oleh pengunjung perpustakaan setiap hari.
6.            Dilaksanakan pelatihan peningkatan keterampilan baca tulis untuk semua kalangan.
7.      Ada tokoh masyarakat yang dihadirkan ke perpustakaan, dan tokoh itu memiliki minat dan perhatian yang besar terhadap tumbuh-berkembangnya kegiatan baca tulis di masyarakat luas.
Kemudaian yang mungkin menjadi pertanyaan pembaca sekalian adalah Apakah dampak dari berbagai upaya tersebut bagi peningkatan kualitas pendidikan di SMA Negeri 1 Yogyakarta?
Berikut ini secara ringkat saya sampaikan hasil kegiatan SMA Negeri 1 Yogyakarta baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penyediaan dan layanan informasi yang dilakukan oleh SMA Negeri 1 Yogyakarta, terutama ditujukan untuk mendukung proses pembelajaran. Keberhasilan atas kinerja tersebut dapat dilihat pada pencapaian sejumlah data misalnya:
1. Peningkatan jumlah pengunjung dan peminjam buku perpustakaan
2. Suasana kehidupan sekolah
a.       Aktivitas pembelajaran di perpustakaan semakin sibuk
b.      Kegiatan ekstrakurikuler berbasis perpustakaan. Dalam kegiatan keseharian, koleksi perpustakaan dimanfaatkan juga untuk kegiatan ekstrakurikuler (ekskul), seperti: Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Jurnalistik, dan Klub Teladan Cinta Baca (TINTA)
c.       Kelompok Belajar
d.      Browsing internet, akses internet gratis dan perpustakaan memfasilitasinya
e.  Banyaknya kejuaraan dalam bisang olimpiade sains tingkat Nasional maupun Internasional
f.       Meningkatnya keterampilan literasi informasi
3.Kemampuan Membaca dan Menulis
Keberhasilan program perpustakaan untuk aktivitas ini tercatat sebagai prestasi dan dipublikasikan di perpustakaan, berupa trofi maupun dokumentasi foto kegiatan dan karya. Wujud penguasaan ini berupa data statistik peminjaman buku yang menunjukkan peningkatan. Sementara aktivitas menulis siswa dan guru dimuat dalam media intern sekolah maupun media umum. Media tersebut antara lain majalah dinding (mading) kelas, mading sekolah, majalah Kreatif, lomba penulisan resensi buku (rutin setahun sekali), lomba menulis cerpen. Majalah Horison, Koran Tempo, SKH Kedaulatan Rakyat, Republika, dan Suara Pendidikan.
4. Prestasi Lomba dan Sekolah (Juara 1 E-Learning tingkat Nasional 2011, Siswa berprestasi, Guru berprestasi, Debat Bahasa Inggris, dll) itu semua tidak lepas dari peran perpustakaan.
 5. Prestasi Belajar
Kenaikan nilai input – output siswa SMA Negeri 1 Yogyakarta. • Persentase kelulusan dari tahun ke tahun meningkat tajam. • Persentase siswa ke Perguruan Tinggi terus meningkat tahun 2012 tercatat 98 % masuk di PTN.
6.  Tahun 2008 terpilih sebagai Juara 1 (PERPUSTAKAAN SEKOLAH TERBAIK) pada Lomba Perpustakaan Sekolah antar SMA/MA/SMK tingkat Provinsi DIY .
7. Tahun 2010 salah seorang pustakawan SMAN 1 Yogyakarta berhasil terpilih menjadi Pustakawan berprestasi terbaik provinsi DIY dan menjadi pustakawan berprestasi tingkat nasional
8. Pada tahun 2011 perpustakaan SMAN 1 Yogyakarta juga telak memperoleh sertifikat Akreditasi perpustakaan sekolah dengan nilai A.
D. Visi, Misi dan Renstra Perpustakaan itu penting.
Untuk menentukan arah pengembangan dan menjaga kelangsungan dan kesinambungan program, visi, misi dan Renstra perlu disusun bersama oleh seluruh komponen sekolah, sehingga semua merasa memiliki dan turut bertanggungjawab atas pencapaiannya. Visi-Misi perpustakaan sebagian besar sekolah mungkin sudah menyusun, namun renstra perpustakaan belum tentu disusun karena berbagai alasan. Berikut sekedar contoh visi-misi tersebut. Visi, Misi dan Motto Perpustakaan SMA Negeri 1 Yogyakarta 
VISI : Menjadi Perpustakaan Sekolah yang mampu memberikan pelayanan Informasi dan Pengetahuan yang efektif,efisien,cepat dan tepat,sehiungga mampu menjadi penopang keberhasilan pendidikan di sekolah.
MISI :
1.Meningkatan pelayanan pemakai dalam bentuk memberikan pelayanan yang mudah
2.Meningkatan sarana penunjang untuk pelayanan pemakai.
3.Meningkatan Sumber Daya Manusia dengan pengikutsertaan pengelola dalam setiap kegiatan kepustakaan.
4.Menyediakan sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang dapat menunjang proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah.
Motto : Genggam Dunia dengan Membaca
E. Penutup
Perlu kita yakini bersama bahwa optimalnya peran dan perpustakaan sekolah akan melapangkan jalan menuju tujuan pembelajaran serta meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Akhirnya, kita harus segera sadar dan bertindak untuk menghidupkan perpustakaan kita. Mengembangkan dan memberdayakan perpustakaan sekolah harus menjadi program dan komitmen bersama yang harus disegerakan. Beribu wacana dan cara telah kita miliki, mari buktikan komitmen kita bersama.  

DAFTAR PUSTAKA
Hanifah, dkk. (2006). Courseparck on Teacher Librarianship (Terjemahan). Yogyakarta : Jurusan IPI Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.
Hernowo. Agar Perpustakaan Tak Jadi Kuburan. http://www.mizan.com/portal/template/BacaArtikel/kodeart/1031
Ibrahim Badafal. (1999). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
SMA Negeri 1 Yogyakarta. (2010).10 Langkah Meningkatkan Minat Baca di Perpustakaan SMA Negeri 1 Yogyakarta . Perpustakaan SMA Negeri 1 Yogyakarta ,2010
Profil Perpustakaan SMA Negeri 1 Yogyakarta . Yogyakarta : SMA NEGERI 1 YOGYAKARTA, 2011



[1] Makalah ini disusun sebagai syarat mengikuti Workshop persiapan Konggres IASL 2012, Pada tanggal 15-18 Oktober 2012 di Hotel Grand Jaya Raya Cipayung Bogor

[2] Penulis adalah pustakawan di Perpustakaan SMAN 1 Yogyakarta

[3] Data diambil dari http://www.islamic-bookfair.com/opini-pilihan/263-kemampuan-baca-orang-indonesia-payah.html diakses pada tanggal 13 Oktober 2012 jam 9.09


[5] Banyaknya informasi yang ada di sekeliling masyarakat dengan adanya kemajuan teknologi informasi

[6] Menjadi prioritas utama di program sekolah


[7] Adanya kebijakan dari Kepala sekolah dalam rangkanmeningkatkan kegemaran dan budaya baca di SMAN 1 Yogyakarta